Friday, November 4, 2011

Khutbah Arafah dan Tantangan Pemikiran

“ Pada hari ini telah Kusem­purnakan bagi kalian agama kalian dan telah Kucukupkan kepada kalian nikmat-Ku dan Islam telah Kuridhai menjadi agama bagi kalian (QS AI-Ma’idah [5]: 3).
Pada tanggal 8 Dzulhijjah ( juga disebut dengan Hari Tarwiyah) pada tahun ke 10 Hijrah, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam pergi ke Mina dalam proses melaksanakan ibadah haji yang pertama dan terakhir , sebab Rasululah hanya berhaji sekali sahaja. Di Mina rasul beliau melaksanakan shalat zuhur, asar dengan cara jamak qashar demikian juga dalam melaksanakan shalat magrib dan  isya, dan beliau juga melakukan shalat subuh di sana. Setelah itu beliau menanti beberapa saat sehingga matahari terbit, barulah beliau  melanjutkan perjalanan dari Mina menuju Arafah. Rasululah tiba di Arafah pada 9 Dzulhijjah  sebelum waktu Dzuhur.  Setelah masuk waktu Dzuhur, beliau melakukan shalat Dzuhur dan Ashar dengan jama’ taqdim.
Setelah matahari tergelincir, seusai shalat Dzuhur Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam meminta agar Al-Qashwa’, unta beliau, didatangkan. Beliau kemudian menungganginya hingga tiba di tengah Padang Arafah. Pada waktu itu  telah berkumpul sekitar 124.000 atau 144.000 kaum Muslim. Beliau kemudian berdiri di hadapan mereka me­nyampaikan khutbah haji yang merupakan pesan dan wasiat terakhir beliau yang lebih dikenal dengan sebutan khutbatul wada’ yang berarti Khutbah perpisahan. Adapun isi khutbah beliau adalah sebagai berikut :
Wahai manusia! Dengarkanlah nasihatku baik-baik, karena barangkali aku tidak dapat lagi berjumpa dengan kamu semua di tempat ini. Tahukah kamu semua, hari apakah ini? (Beliau menjawab sendiri) Inilah Hari Arafah. Tahukah kamu bulan apakah ini? Inilah bulan suci. Tahukah kalian tempat apakah ini? Inilah tempat yang suci. Karena itu, aku permaklumkan kepada kalian semua bahwa darah dan nyawa kalian, harta kekayaan kalian dan setiap individu mempunyai kehormatan diri yang setiap indvidu  haram untuk menumpahkan darah yang lain, menganggu kehormatan diri dan harta kekayaan yang lain, sampai kalian nanti bertemu dengan Tuhanmu di hari kemudian kelak. Semua harus kalian sucikan sebagaimana sucinya hari ini, sebagaimana sucinya bulan ini, dan sebagaimana sucinya kota ini. Hendaklah berita ini disampaikan kepada orang-orang yang tidak hadir di tempat ini oleh kamu sekalian!
Bukankah aku telah menyampaikan? Ya Allah, saksikanlah!
Sejak hari ini  dihapuskan segala macam bentuk riba. Barang siapa yang memegang amanah di tangannya, maka hendaklah segera menyampaikan kepada yang empunya. Dan, sesungguhnya sistem riba jahiliah adalah batil. Dan awal riba yang pertama sekali aku batalkan  adalah riba yang dilakukan oleh pamanku sendiri, Al-’Abbas bin’Abdul-Muththalib.
Demikian juga pada hari ini haruslah semua bentuk pembalasan dendam atas pembunuhan jahiliah telah dibatalkan demikian juga segala bentuk penuntutan darah cara jahiliah. Penuntutan darah yang pertama kali kuhapuskan adalah tuntutan darah terhadap ‘Amir bin Al-Harits.
Wahai manusia! Hari ini setan telah putus asa untuk dapat disembah pada bumimu yang suci ini. Tetapi, ia bangga jika kamu dapat menaatinya walau dalam perkara yang kelihatannya kecil sekalipun. Karena itu, waspadalah kalian atasnya! Wahai manusia! Sesungguhnya zaman itu terus beredar sejak Allah menjadikan langit dan bumi.
Wahai manusia! Sesungguhnya bagi kaum wanita (istri kalian) itu ada hak-hak yang harus kalian penuhi, dan bagi kalian juga ada hak-hak yang harus dipenuhi istri itu. Yaitu, mereka tidak boleh sekali-kali membawa orang lain ke tempat tidur selain kalian sendiri, dan mereka tak boleh membawa orang lain yang tidak kalian sukai ke rumah kalian, kecuali setelah mendapat izin dari kalian terlebih dahulu. Karena itu, sekiranya kaum wanita itu melanggar ketentuan-ketentuan demikian, sesungguhnya Allah telah mengizinkan kalian untuk meninggalkan mereka, dan kalian boleh memukul dengan pukulan ringan terhadap diri mereka yang berdosa itu.Tetapi,jika mereka berhenti dan tunduk kepada kalian, menjadi kewajiban kalianlah untuk memberi nafkah dan pakaian mereka dengan sebaik-baiknya. Ingatlah, kaum hawa adalah makhluk yang lemah di samping kalian. Mereka tidak berkuasa. Kalian telah membawa mereka dengan suatu amanah dari Tuhan dan kalian telah halalkan kehormatan mereka dengan kalimat Allah. Karena itu, bertakwalah kepada Allah tentang urusan wanita dan terimalah wasiat ini untuk bergaul baik dengan mereka.
Wahai umatku! Bukankah aku telah menyampaikan? Ya Allah, saksikanlah!
Wahai manusia! Sesungguhnya aku meninggalkan kepada kalian sesuatu, yang jika kalian memeganginya erat­-erat, niscaya kalian tidak akan sesat selamanya. Yaitu: Kitab Allah dan Sunnah Rasul-Nya. Wahai manusia! Dengarkanlah baik-baik spa yang kuucapkan kepada kalian, niscaya kalian bahagia untuk selamanya dalam hidupmu!
Wahai manusia! Kalian hendaklah mengerti bahwa orang-orang beriman itu bersaudara. Karena itu, bagi tiap­-tiap pribadi di antara kalian terlarang keras mengambil harta saudaranya, kecuali dengan izin hati yang ikhlas.
Bukankah aku telah menyampaikan? Ya Allah saksikanlah!
Janganlah kalian, setelah aku meninggal nanti, kembali kepada kekafiran, yang sebagian kalian mempermainkan senjata untuk menebas batang leher kawannya yang lain. Sebab, bukankah telah kutinggalkan untuk kalian pedoman yang benar, yang jika kalian mengambilnya sebagai pegangan dan lentera kehidupan kalian, tentu kalian tidak akan sesat, yakni Kitab Allah (Al ­Quran).
Wahai umatku! Bukankah aku telah menyampaikan? Ya Allah, saksikanlah!
Wahai manusia! Sesungguhnya Tuhan kalian itu satu, dan sesungguhnya kalian berasal dari satu bapak. Kalian semua dari Adam dan Adam terjadi dari tanah. Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kalian semua di sisi Tuhan adalah orang yang paling bertakwa. Tidak sedikit pun ada kelebihan bangsa Arab dari yang bukan Arab, kecuali dengan takwa.
Wahai umatku! Bukankah aku telah menyampaikan? Ya Allah, saksikanlah!
Karena itu, siapa saja yang hadir di antara kalian di tempat ini berkewajiban untuk menyampaikan wasiat ini kepada mereka yang tidak hadir!
Tak lama setelah Rasulullah Saw. menyampaikan khutbah tersebut, turunlah firman Allah : “ Pada hari ini telah Kusem­purnakan bagi kalian agama kalian dan telah Kucukupkan kepada kalian nikmat-Ku dan Islam telah Kuridhai menjadi agama bagi kalian (QS AI-Ma’idah [5]: 3).
Dari khutbah diatas dapat dilihat bahwa Hari Arafah adalah hari kemanusian, hari persaudaraan dan hari keadilan umat manusia. Arafah adalah pertemuan umat islam sedunia setahun sekali, dari berbagai belahan sudut penjuru dunia, dengan berbagai warna kulit, bangsa dan budaya. Semuanya berkumpul ditempat yang satu, memakai pakaian ihram, semuanya berada dalam kedudukan yang sama tanpa mengenal pangkat, gelar dan kedudukan. Dengan khutbah diatas dapat dilihat, inilah pesan persaudaraan yang bdisampaikan kepada umat manusia, Islam adalah agama persaudaraan, bukan agama kekerasan. Umat Islam adalah umat yang menghargai darah, harta dan kehormatan manusia yang lain. Dari khutbah diatas dapat dilihat bahwa seorang muslim adalah individu yang menjaga hak-hak individu yang lain, bukan individu teroris sebagaimana yang digambarkan oleh media barat.
Demikian juga islam adalah agama yang mengakui perbedaan bangsa, suku dan budaya. Persamaan dan persaudaraan global tersebut tidak sampai kepada pengakuan semua agama sama yang dilontarkan oleh kelompok pluraisme agama. Oleh sebab itu setelah khutbah turun ayat yang menyakatan bahwa agama Islam aadalah agama sempurna. Islam mengakui perbedaan budaya dan agama (pluraritas agama ) tetapi tidak mengakui pluralism agama yang menyatakan bahwa semua agama itu adalah sama.
Demikian juga Islam adalah agama yang sangat menghargai kedudukan wanita, bukan agama yang menindas wanita sebagaimana yang dogambarkan oleh kelompok gerakan feminism. Hukum Islam adalah hukum yang menjaga kehormatan ndan harga diri wanita bukan hokum yang membatasi dan mendzalimi sifat-sifat kewanitaan. Jika terjadi beberapa mkasus dalam masyarakat itu bukanlah produk hukum Islam tetapi sikap muslim yang tidak memahami bagaimana islam menjaga wanita.
Setelah khutbah turunlah ayat  yang menjelaskan bahwa islam adalah agama sempurna, sehinga tidak memerlukan perubahan hokum sebagaimana yang digembar-gemborkan oleh kelompok islam liberal. Semoga dalam menyambut hari rafah dan Idul Adha tahun ini, umat Islam dapat menghayati khutbah arafah tersebut sebagai pedoman dalam menghadapi tantangan pemikiran globalisasi, hak asasi manusia, yang disebarkan oleh kelompok barat yang disuarakan oleh gerakan feminism, islam liberal dan lain sebagainya. Fa’tabiru ya ulil albab. (Muhammad Arifin Ismail,Buletin ISTAID, Jumat 4 Dzulhijjah 1432 )

Tuesday, November 1, 2011

Indahnya Mencari Ilmu


 
Kemiskinan, bukan alasan dalam mencapai kecemerlangan ilmu: Imam Syafi’I (w. 820 M), adalah seorang anak yatim dan miskin, telah menghafal al-Qur’an ketika berumur 7 tahun, dan menghapal pula kitab Fikih Imam Malik ketika berumur 10 tahun. Beliau juga telah dianggap layak untuk membuat fatwa ketika berumur 12 tahun (Anwar Ahmad Qadri, 1981, Islamic Jurisprudence in the Modern World, Lahore: Sh. Muhammad Ashraf, hlm. 124). Sewaktu dewasa beliau biasa menghabiskan 1/3 malam belajar. (al Ghazali, Ihya Ulumiddin, terjemahan N. A. Faris, 1979, The Book of Knowledge, Lahore: Sh. Muhammad Ashraf, hlm: 59).
Kecacatan, bukan alasan dalam mencapai kecemerlangan ilmu: Abu Hasan al-Tamimi (w. 918 M) adalah seorang yang buta, tetapi kecintaannya pada ilmu menjadikan beliau belajar melalui pendengaran saja sehingga menjadi ulama fiqh mazhab Syafi’I yang terkenal. (George Makdisi, 1981, The Rise of Colleges, EdinburghEdinburgh University Press, hlm: 99).
Situasi Sosial Politik yang Tidak Stabil, bukan alasan dalam mencapai kecemerlangan ilmu: Ibn Taymiyyah (w. 1328 M) yang dilahirkan ketika keadaan politik umat Islam kacau balau di bawah keganasan Mongol dan Perang Salib, hidup dalam iklim keilmuan keluarganya. Beliau mempelajari al-Qur’an, Hadith, Fiqh, matematika, sejarah, sastra, imu kalam serta filsafat dan tamat pada belajar  ketika berumur 21 tahun. (Qamaruddin Khan, 1985, Political Thought of Ibn Taymiyyah, Islamabad: Islamic Research Institute, hlm: 2-4).
Kesenangan Hidup juga tidak menjadikan diri menjadi Malas untuk mencapai kecemerlangan ilmu: Ibn Hazm (w. 1064 M) yang dilahirkan di Qordoba dan Ibn Khaldun (w. 1406) yang dilahirkan di Tunis, keduanya berasal dari lingkungan keluarga yang berada, berpendidikan dan berpengaruh. Mereka yang dibesarkan dalam suasana kelimuan yang biasa dialami oleh anak-anak seperti itu mempelajari semua bidang agama dan filsafat. Bidang kajian Ibn Hazm lebih luas lagi sehingga sampai meliputi perobatan (kedokteran) yang beliau tidak amalkan secara serius mungkin karena terpaksa berpindah pindah disebabkan suasana politik yang tidak stabil. (A.G. Chejne, op.cit,, hlm: 36-43 dan Ibn Khaldun, Muqaddimah, terjemahan Franz Rosenthal, hlm: vii-xii).
Kedudukan dan Umur bukan faktor penghalang untuk terus belajar: Imam Abu Hanifah, walaupun sudah mempunyai pengikut dan masyhur, ternyata masih belajar lagi dengan Imam Malik yang 13 tahun lebih muda daripadanya. (Shibli Nu’mani, 1982, Imam Abu Hanifah: Life and Work, terjemahan M. Hadi Hussain, Lahore: Institute of Islamic Culture, hlm: 30).
Al-Jahiz (w. 869 M) adalah seorang budak hitam, sekaligus berprofesi sebagai penjual roti dan ikan, ternyata beliau mampu mencapai ketinggian ilmunya bukan hanya sekedar dengan cara menghadiri kuliah (ceramah-ceramah/halaqoh) tetapi dengan cara bergaul dengan ilmuwan di Mirdad, yaitu sebuah kawasan terbuka di pinggir Basra. Mirdad adalah tempat pertemuan para kabilah dan para ilmuwan yang saling bertukar berbagai ragam bahasa Arab Badui. Al Jahiz juga sering mengunjungi masjid dan mempelajari hal-hal yang berguna daripada para pengunjung masjid yang lain (masjidiyun). Kisah kematian beliau mencerminkan kehidupan yang benar-benar cinta akan ilmu. Beliau yang lumpuh tubuh badannya meninggal dunia tertindih oleh buku-buku yang selalu tersimpan di sekelilingnya. (Charles Pellat, 1969, The Life and Works of Jahiz, Berkeley/Los Angeles: University of California Press, hlm: 3-9).
Abu Rayhan Al Biruni (w. 1048 M) menguasai berbagai disiplin ilmu, ahli sains, ahli perundangan, ahli perbandingan agama dan menguasai berbagai bahasa seperti Arab, Parsi, Turki, Yahudi dan Sambani, dan ketika mengikuti Mahmud Ghaznawi ke India selama 14 tahun, beliau mempelajari bahasa Sanskrit untuk menulis tentang agama dan budaya orang India. (G. Allana, 1979, “Abu Rayhan Muhammad Ibn Ahmad al Biruni: A Restless Genius in Search of Knowledge”, dalam Al-Biruni Commemorative Volume: Proceedings of the International Congress, Hakim Mohammad Said, (ed.), Karachi: Hamdard National Foundation, hlm: 149-157). Ternyata ketika beliau sakit parah masih mendesak seorang sahabatnya yang menziarahinya, agar memberikan jawaban terhadap satu persoalan fiqh yang beliau rasa belum mendapat jawaban yang tepat. Sahabatnya dengan nada kasihan bertanya kepada al Biruni: Apakah ini waktu yang tepat untuk membahas tentang persoalan fiqh sedangkan engkau dalam keadaan seperti ini? Al Biruni menjawab dengan tegas bahwa beliau tidak mau meninggalkan alam fana ini dalam keadaan jahil (tidak tahu/bodoh) tentang penyelesaian persoalan tersebut. (Ahmad Shalaby, 1945, History of Muslim Education,Beirut: Dar al-Kashshaf, hlm: 179).
Ibn Rushd (w. 1198 M) hanya bercuti (libur) 2 hari sepanjang hidupnya dari kerjanya yaitu mengajar, menulis dan memberi fatwa sebagai Qodi, yaitu pada hari kematian bapaknya dan dan pada hari perkawinannya. (Miguel Cruz Hernandez, 1989, “Ibn Rushd dan Musa Ibn Maymun-Ahli Falsafah al-Andalus”, Kurier UNESCO, no 11, hlm: 9).
Ibn Sina (w. 1037 M) yang hidup di Iran disekitar abad ke-10 dan ke-11 Masehi, telah menerima pendidikan al-Qur’an dan kesusasteraan ketika masih kecil. Setelah sampai pada usia 10 tahun beliau telah mengkhatamkan al-Qur’an dan banyak kitab kesusasteraan. Sejak kecil beliau dan saudara kandungnya telah ditunjukan kepada perbincangan filsafat tentang masalah akal dan roh, geometrid an ilmu hisab India. Beliau dihantar oleh ayahnya mempelajari ilmu hisab India dan matematika daripada seorang penjual sayur yang menguasai bidang ini. Kemudian beliau juga giat pula mempelajari ilmu Fiqh dan menguasaiya. Setelah itu beliau mengkahi filsafat, khasnya kitab Isagoge karangan Porphyry, seorang tokoh filsafat Yunani Kuno. Beliau belajar ilmu logika dengan cara otodidak sampai menguasainya. Kemudian beliau juga memabca sendiri teks dan komentar tentang sains kedokteran dan metafisika. Beliau juga membaca kitab perobatan dan mengatakan bahwa ilmu perobatan tidaklah terlalu sulit. Oleh karenanya, dalam waktu yang singkat telah menguasainya dan tidak sedikit para pakar perobatan yang belajar kepadanya. Beliau merawat orang-orang yang sakit dan mendalami lagi ilmu perobatan. Pada usia 16 tahun, beliau melibatkan diri dalam ilmu perundangan dan sering berpolemik tentang hal tersebut.
Kemudian, selama satu setengah tahun beliau belajar dan mengkaji tentang filsafat dengan mendalam. Apabila merasa letih dan mengantuk ketika belajar, maka beliau akan meminum jus buah-buahan untuk menyegarkan badan dan meneruskan bacaan. Beliau banyak bersembahyang di masjid dan berdoa agar Allah memberikan penjelasan terhadap persoalan yang sukar dipahaminya. Beliau melaksanakan hal tersebut secara istiqamah sehingga semua bidang ilmu seperti logika, sains kedokteran dan matematika dikuasainya. Kemudian beliau membaca kitabMetafizika karangan Aristotle sebanyak 40 kali tetapi masih belum memahaminya sehingga akhirnya beliau menemukan ulasan (penjelasan) al-Farabi tentang kitab metafizikanya Aristotle. Beliau merasa sangat gembira ketika dapat memahami kitab yang hampir 500 halaman tersebut, lalu beliau mendirikan sholat sunat dan banyak bersedekah. Ketika beliau dipanggil untuk membantu Sultan Nuh al-Mansur di Bukhara, beliau mengambil kesempatan buku-buku di perpustakaan besar kepunyaan sultan itu dan telah selesai menguasai semua bidang ilmu setelah berumur 18 tahun. (William E. Gohlman, 1974, The Life of Ibn Sina: A Critical Edition and Annotated Translation, New York: SUNY Press).
Syed Muhammad Naquib  Al-Attas: Ketika beliau sedang menyiapkan penjelasan tentang karya Hujjatul Siddiq oleh Syeikh Nurudin al-Raniri pada awal 1980an, al-Attas membuat kajian di Perpustakaan Universiti Chicago. Dalam beberapa pertemuan dengan Prof. Dr Wan Mohd Nor Wan Daud di sana beliau mengakui amat sukar tidur sebab memikirkan maksud penulis kitab tersebut. Bahkan, karena kesungguhan beliau dalam memahami maksud kitab tersebut sampai-sampai beliau seakan-akan berbicara dengan al-Raniri sendiri. Beliau pernah menyatakan kepada Prof Wan, bahwa ketika menulis tentang episode-episode sejarah, beliau seolah-olah dapat melihat dengan mata hatinya rentetan-rentetan semua peristiwa penting dalam episode berkenaan. Hal yang sama juga berlaku ketika beliau merancang dua kampus ISTAC di Jalan Damansara dan Persiaran Duta yang indah dan berperibadi unik itu. Beliau dapat membayangkan setiap sudut dari bangunan itu dan semua yang ingin diletakkan di dalamnya seperti seorang penghias dalaman dan juru lanskap(Prof. Dr. Wan Mohd Nor Wan Daud, Artikel: Falsafah dan Metodologi Pengkajian Sejarah Syed Muhammad Naquib Al-Attas pada Seminar Khas Sejarah Alam Melayu: Antara Fakta dan Khayalan, anjuran CASIS di Bilik Jemaah UTM International Campus Kuala Lumpur,  9hb Sept 2011).

Masuklah salah satu dari 7 golongan teristimewa




oleh Aid Abdullah al-Qarni
Abu Hurairah ra menuturkan, aku mendengar Rasulullah shallahu alaihi wassalam bersabda, "Tujuh macam manusia yang akan mendapat naungan Allah dalam naungan-Nya pada hari yang tidak ada naungan selain naungan-Nya. Mereka adalah seorang pemimpin yang adil, seorang pemuda yang tumbuh berkembang dalam ibadah kepada Allah, dua orang yang saling mencintai kerana Allah, berkumpul kerana Allah, dan berpisah karena Allah, seseorang berzikir kepada Allah dalam kesendirian dan kemudian bercucuran air matanya, seseorang yang hatinya terpaut pada masjid-masjid, seseorang yang bersedekah dan menyembunyikan (sedekahnya) itu hingga tangan kirinya tidak tahu apa yang disedekahkan oleh tangan kanannnya,seseorang yang ketika digoda oleh seseorang wanita yang bermartabat dan cantik jelita, ia menjawab, "Sesungguhnya aku takut kepada Allah, Tuhan semesta alam".
 Adapun golongan pertama, adalah golongan pemimpin yang adil. Mereka itu adalah setiap orang yang berbuat adil terhadap orang-orang yang dipimpinnya.Bahkan,menurut sebagian ulama, seorang guru yan berbuat adil terhadap murid-muridnya  maka ia termasuk orang yang adil, sebagaimana dimaksud oleh hadith ini.Ketika seorang guru menguji murid-muridnya, misalnya kemudian ia menilai hasil ujian mereka dengan adil, maka ia termasuk orang yang akan mendapat naungan Allah pada hari yang tidak naungan lain selain naungan-Nya.
Setiap mukmin hendaklah berusaha sebaik mungkin agar dirinya memiliki salah satu sifat dari ketujuh golongan ini. Lebih baik lagi jika ia mampu memiliki dua, atau tiga dari ketujuh sifat itu.Ia sangat mudah bagi siapa saja yang dimudahkan Allah bahkan sangat ringan bagi siapa yang dirinya diringankan Allah Ta'ala.
Perkataan Rasulullah shallahu alaihi wassalam ini adalah pernyataan bahwa pada hari kiamat kelak tidak ada tempat bernaung satupun selain naungan Allah. Begitulah, pada hari kiamat kelak tidak ada naungan, tak ada pohon, tak tempat berteduh, dan tak ada sesuatu pun yang dapat melindungi manusia dari bahang terik matahari yang pada saat itu terlampau dekat dengan kepala seluruh manusia.
وعن الْمِقْدَادُ بْنُ الأَسْوَدِ قَالَ سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- يَقُولُ: " تُدْنَى الشَّمْسُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ مِنَ الْخَلْقِ حَتَّى تَكُونَ مِنْهُمْ كَمِقْدَارِ مِيلٍ ». قَالَ سُلَيْمُ بْنُ عَامِرٍ فَوَاللَّهِ مَا أَدْرِى مَا يَعْنِى بِالْمِيلِ أَمَسَافَةَ الأَرْضِ أَمِ الْمِيلَ الَّذِى تُكْتَحَلُ بِهِ الْعَيْنُ. قَالَ « فَيَكُونُ النَّاسُ عَلَى قَدْرِ أَعْمَالِهِمْ فِى الْعَرَقِ فَمِنْهُمْ مَنْ يَكُونُ إِلَى كَعْبَيْهِ وَمِنْهُمْ مَنْ يَكُونُ إِلَى رُكْبَتَيْهِ وَمِنْهُمْ مَنْ يَكُونُ إِلَى حَقْوَيْهِ وَمِنْهُمْ مَنْ يُلْجِمُهُ الْعَرَقُ إِلْجَامًا ». قَالَ وَأَشَارَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- بِيَدِهِ إِلَى فِيهِ" أخرجه مسلم .
Al-Miqdad ibn al-Aswad mengatakan, "Aku mendengar Rasulullah shallahu alaihi wassalam mengatakan, "Matahari, pada hari kiamat kelak, akan sangat dekat dengan kepala manusia, dan bahkan, jarak antara matahari dan manusia saat itu, hanya satu batu ( mil ) saja. Sulaim ibnu 'Aamir berkata, "Aku tak tahu apa yang dimaksudkan dengan ukuran batu di sini.  Adakah ia jarak satu batu atau 'mil' yang digunakan untuk celak mata. Sabda baginda lagi, " Lalu keadaan manusia berpeluh ketika itu pun mengikut kadar amalan masing-masing. Ada yang peluhnya sampai ke mata kaki,  ada yang sampai ke lututnya, ada yang sampai ke pinggangnya dan ada yang sampai peluhnya masuk ke mulutnya- sambil Rasulullah sallahu alaihi wasallam menunjuk ke mulut baginda.
Disebutkan, pada hari itu Yang Maha Perkasa nampak dengan segala keagungan-Nya dan kebesaran-Nya duduk di singgahsana yang amat agung. Menurut sebuah riwayat, saat itu, singgasana Allah ini dipikul oleh lapan malaikat dan Allah berada di atasnya dengan segala keagungan, kebesaran, kemuliaan-Nya yang tiada bandingan sedikitpun. Semua itu tidak dapat dilukiskan dengan kata-kata. Entah bagaimana, di mana, seperti apa, dan laksana apa? Yang jelas, Dia akan bertahta di singgasana-Nya sebagaimana disebutkan dalam al-Qur'an.
Kemudian, dari atas singgasana-Nya itu, Allah akan menyeru dengan suara-Nya yang terdengar oleh mereka yang dekat dan mereka yang jauh. "Akulah  Maharaja dari segala maharaja" - yang Mahasuci lagi Maha Agung. Dialah Raja, yakni sebagaimana ditegaskan dalam al-Qur'an, "Yang menguasai Hari Pembelasan". (QS : al-Fatihah : 3). Ertinya, tidak ada raja selain Dia.
Dalam sebuah hadith Qudsi, disebutkan Allah Ta'ala, berfirman : "Akulah  Raja, di manakah raja-raja dunia?". Kemudian Dia mengulanginya lagi hingga tiga kali, "Akulah Sang Raja, dimanakah raja-raja dunia?".
Lalu Dia bertanya, "Milik siapakah kekuasaan pada hari ini? Milik siapakah kekuasaa hari ini? Miliki siapakah kekuasaan pada hari ini? Lantas, Allah menjawabnya sendiri seraya berkata, "Hanya kepunyaan Allah Yang Maha Esa lagi Maha Mengalahkan". (QS : Ghafir : 16)
Sesaat kemudian, Allah Ta'ala mengawali panggilannya. Dia berkata, "Mana orang-orang yang cinta-mencintai dalam kebesaran-Ku? Pada hari ini, aku akan menaungi mereka dalam naungan-Ku,sedang hari ini tidak ada naungan selain naungan-Ku".
Hadith ini diriwayatkan oleh Abu Hurairah ra. Menurut riwayat ini, ketika seluruh manusia - dari sejak dahulu kala, hingga akhir zaman nanti - dikumpulkan menjadi satu, Allah aka menyeru mereka. Dia akan berkata, "Mana orang-orang saling mencintai dalam kebesaran-Ku? Pada hari ini, aku akan menaungi mereka dalam naungan-Ku. Maka, bangkitlah orang-orang itu menuju Allah Azza Wa Jalla

Monday, October 31, 2011

PPSMI: It is the concept, not the language



by Feizrul Nor Nurbi    
Original article

October 30, 2011
Lately, it is interesting to note the shift in stand by proponents of Teaching of Mathematics and Science in English (PPSMI) generally, and specifically the group calling itself Parent Action Group for Education Malaysia (PAGE).

No, not that they somehow understand the folly of their campaign in reintroducing PPSMI in Malaysian schools, but rather the refocusing on their raison d’être - from  arguing that PPSMI will improve the standard of English in Malaysian schools - to the argument that PPSMI will help to empower the nation in the field of Science and Mathematics.

Firstly, it is worth noting that on PAGE's website - there is no specific and clear objective regarding the direction or the 'fight' undertaken  by the body, just a broad mission statement that the body acts as a platform for parents to voice their concerns regarding educational issues.

With this very broad statement, it is peculiar why PAGE chooses to champion the PPSMI cause when there are other pressing 'educational issues' that warrant higher attention.

How about the issue of the diminishing quality of educators and teachers that are the backbone of the country's education system?

How about the diminishing appeal of teaching as profession of choice by the bright and talented?

How about the inadequate syllabus fed to our students that ill-prepare them for the challenges in university and also in the working world?

How about the outdated rote-learning methodology still used in classrooms today that kills critical-thinking and inquisitivity amongst school children today?

Believe me when I say that our country's education system is rotten to the core, and those four concerns highlighted above barely being the tip of the proverbial iceberg.

Thus, it is peculiar that PAGE focuses its hard work and attention on something of less importance such as language of instruction, when the underlying causes of the decay are not even given a cursory glance.

Perhaps it's a classic case of 'missing the forest for the trees'?

Back to the main point - will learning Mathematics and Science in English empower the country's pursuit of excellence in those two fields?

To argue this point it is pertinent that we understand that to excel in these two subjects at the school level, it is of utmost importance that one is highly adept in the  understanding of the concepts and principles.

Take the most basic concept of Mathematics - the numbers. It is easy to memorize the numbers in it language form - albeit in English or any other language - but to understand the concept of numbers is another different thing altogether. The concept of what the number represents, the mathematical usage and practical place of  numbers in our daily life.

Perhaps we should go lower to something more basic than numbers - the concept of 'zero'. Seems simple, but try explaining the concept of 'zero' to preschoolers or even early primary students. Even those of the teaching profession will find it hard to articulate their understanding of the concept 'zero' to those new to the subject.

Even making it harder is trying to explain this simple yet essential concept in a language unfamiliar to the children.
English prowess
Hence, it is in my view, that to excel in these two highly technical subjects, one must be able to hold a strong grasp of the concepts and principles dominant in the learning of Science and Mathematics. And there is no easier way to understand these than to teach the students in their mother tongue, as the oft-quoted UNESCO study suggests.

Perhaps, one might argue - what happens when the students go to university, and to one that uses English as medium of instruction?

Here is where their prowess of the English language will be tested. When I say 'prowess' it mean the overall strength in the whole language, and not necessarily the jargons and terms unique to those two subjects.

To demonstrate - a student, who learns Mathematics and Science in Bahasa Melayu and scores 100% in both papers, will definitely struggle in a full-English environment, if somehow he or she only scores the bare minimum in the English paper.

Also - a student who learns Mathematics and Science in Bahasa Melayu and scores 100% in both and combined with a 100% score on the English subject will definitely find it a breeze when learning the two subjects in English later in university.

How about a medium-grade student of Science and Mathematics , who is incidentally a product of PPSMI - will learning the two subjects in English during the school years turn him or her from a medium grade student to an excellent one in a full-English learning environment?

Therein lies the problem - it is rather logical to deduce that it is not the language of instruction that dictates the success achieved in learning the subject, but it is more on the understanding of the concepts and principles in whatever language that the subjects are delivered.

Simply - master the concepts. A change in the medium of instruction will only require a minimal effort for the smart to remain successful.

Thus, the folly in the direction taken by PAGE and the proponents of PPSMI in championing the teaching of Science and Mathematics in English. To me it is clear that the students will respond better when learning these two subjects in their mother tongue, thus leading to better prospect for the nation in these two arena. It is of no use  to learn both subject in English just because 'the reference books are in English' or whatever excuses thrown by the PPSMI proponents when learning them in English  may cause the concepts being lost on the bewildered mind unfamiliar with the language.

Perhaps, it is time for PAGE to re-examine its direction and objectives, also the fight it chooses to undertake. Perhaps there are more pertinent 'educational issues' requiring the grunt and perseverance demonstrated by PAGE, rather than wasting the effort on a policy that is haphazard in both its inception and implementation, and questionable in its achievements.

How about restoring the quality of the teaching profession - isn't it a nobler cause to fight for?
* Feizrul Nor Nurbi is a Harakahdaily reader

Thomas Edison’s Top 5 Tips for Success


Thomas Edison’s Top 5 Tips for Success

by HENRIK EDBERG
Thomas Edison
Thomas Alva Edison was one of the most famous and hard-working inventors in history. When he died in 1931 he held 1093 patents in his name (though a lot of his inventions were collaborations).
Some of his most used inventions are of course the light bulb and the gramophone.
He also did quite a bit work to improve x-ray machines for while (until he almost lost his own eye-sight and an assistant died due to radiation poisoning). And he had a AC/DC-current war with the odd and fascinating inventor Nikola Tesla.
Here are a few of my favourite tips from Edison. They are all about success. And what kind of work and mindset achieving such a thing may require.
“Many of life’s failures are people who did not realize how close they were to success when they gave up.”
One of the problems in life is that people just give up too soon. I think quite a big bit of this because of social programming and the expectations set by society. It’s seen as pretty normal to try once or maybe a few times and then give up.
There is also a ton of products, books and commercials that promises us that we can “Earn 20000 dollars in just 4 weeks” or “Easily lose 30 pounds in 30 days!”.
And we hear these messages over and over throughout life.
No wonder it’s easy to fall into the trap of believing that everything should work out after about three tries or so.
When the promise of a quick fix is sold to us all the time and people around us are buying into it then it becomes easy just do the same thing. And align our expectations of the world around how things “should” work rather than how they work.
If one does not give up so quickly but tries perhaps 20-30 times or more there is a pretty good chance that success will come. If one keeps at it for not 3 weeks but 6 months then the likelihood of success often increases.
If not, then you may spend a lot of time in a cycle where you try a new quick fix, get discouraged quickly and give up, spend some cash on the next quick fix and getting overly enthusiastic and then continue the cycle by jumping from one magic bullet to another, never achieving much of a result. You can read more about this problem in One Big Mistake a Lot of People Make.
“I have not failed. I’ve just found 10,000 ways that won’t work.”
Now, how do you reframe failure? How do you look at it so you don’t feel overwhelmed and give up? Well, you can look at failure as a part of a process. You look at it as ways that won’t work. You draw lessons from those ways. Then you let that go, focus on the present and try again (this time perhaps in a different way).
If you look at failure as something big, like it’s the end of the world you’ll probably be quite a bit afraid of it. And so it can feel too painful to go on after a few failures. Or you may never even try, since your mind is projecting all these horrible and painful future scenarios of what will happen if you try and fail.
Also, if you come from a place of abundance then failure has less power over you. Failure can be really useful if you learn to redefine it for yourself. The key is to develop an abundance mentality – where there is always an abundance of opportunities – instead of a more common scarcity mentality where there is always a lack. If you start to think about your world this way failure becomes less painful and the fear of missteps lessens.
Because with an abundance mentality you believe that there are more good opportunities out there even if you experience failure. So you are less inclined to give into fear and to pull away from taking a chance.
Failure still hurts even if you think about things this way. But then you think about what you can learn from the failure. And then you start over again. And in retrospect you often discover that your previous failure provided some very useful, perhaps even necessary lessons, for your latest project to grow as well as it does.
This way – seeing it as a process and have an abundance-mentality – is one way to reframe failure to keep yourself from giving up. If you look at it this way you’ll be less prone to lie down and just give up.
“The value of an idea lies in the using of it.”
Useful information is good. But you have to put it to use sometime or you’ll never reap any benefits or success. This is a pretty common problem when you for instance get interested in personal development. You get a lot of books, programs etc. and you study them. And then you get more.
Always looking for the magic bullet that will give you success without you having to do anything. Confusing yourself and feeling like you are making progress by reading another book.
That emotional high is dangerous because it can fool you into thinking that things are progressing.
But then a few months later nothing much has happened, except you have a lot of knowledge (and have probably forgotten half of it because your mind couldn’t retain it because you weren’t putting it into action). To get results you need to take action. That’s also the best way to really understand the information you have absorbed and possibly find ways to tweak and use it in an even better way for yourself.
“Being busy does not always mean real work. The object of all work is production or accomplishment and to either of these ends there must be forethought, system, planning, intelligence, and honest purpose, as well as perspiration. Seeming to do is not doing.”
But just going for it, taking action and doing something isn’t enough. You have to ask yourself if what you are doing is useful? Or is it just another way to keep yourself busy, to keep yourself from doing what you really want to do?
You need to think about what you really want to do. You need to make plans. Then throughout your normal day you can remind yourself, by for instance using external reminders like written notes, to stay on track. To not get lost on the wrong track or in the busywork that is perhaps a normal routine or an easy escape from the things you’d like to do but that require more perspiration.
“Genius is one percent inspiration and ninety-nine percent perspiration.”
There is a myth that geniuses mostly just are geniuses and can do great things pretty much as easily as you and I tie our shoelaces. But what is seldom mentioned or seen is how much the really successful people work. And how far the people that just practise, practise, practise can go.
I think natural talent certainly plays a role. But I also think that it can become an excuse to slack off and never come close to your potential. To find something you can become really, really good at – perhaps even be regarded as genius at – I think you need to find something you really, really like to do. Otherwise, your inner motivation and passion will run out and you’ll probably show up less and less. Until you one day just give it up.
Maybe it wasn’t the thing for you. Maybe you grew apart from it.
And if that happens then you can try to find another thing that you really, really like to do.
If you like this article, please give it a thumb up in Stumbleupon. Thanks a lot! =)